Skip navigation

Saya sudah lama punya akun Google. Sudah lama pula beberapa file [yang tidak penting] di simpan di Google Docs, sebuah layanan dari Google yang memperbolehkan kita menyimpan file dokumen, spreadsheet dan presentasi di internet. Dengan cara itu kita bisa mengakses dimana pun file itu tanpa harus membawa media penyimpanan atau bahkan laptop – cukup komputer dan jaringan internet.

Ada banyak perubahan pada layanan Google Docs dengan yang dulu. File yang bisa dilayani sudah beragam, tidak lagi hanya dokumen dengan ektensi .txt atau .doc saja, tapi ia juga terbuka untuk file spreadsheet dan presentasi. File pdf pun – seiring dengan makin lazimnya pengguna internet menyimpan dan membagi dokumen dalam ekstensi pdf – sekarang sudah bisa dibaca di Google Docs. Selain kita kita bisa mengedit file langsung di jaringan internet atau kalau mau bisa diedit secara offline [dengan catatan akan ada aplikasi Google Gears – yang akn disematkan tanpa kita tahu di komputer kita] dengan cara memencet menu offline di kanan atas.

Satu lagi yang saya suka dari Google Docs adalah layanan syncing dengan gmail atau aplikasi lain google. Dengan gmail, kita bisa langsung membaca file yang dilampirkan tanpa harus mendownloadnya ke komputer kita. Tapi layanan ini ada limitasinya: belum bisa secara langsung dipakai buat file pdf. Untuk file pdf masih harus melakukan upload manual ke laman Google Docs.

Apakah Google Docs satu-satunya layanan yang membuat kita bisa menyimpan dan mengedit file langsung di internet. Ada layanan lain yang belum saya coba, seperti Zoho dan ini yang mungkin akan saya pertimbangkan untuk dicoba: Microsoft Web Apps.

Layanan dari Microsoft itu rencananya akan diluncurkan bersamaan dengan penerbitan MS Office 2010. Dalam paparan awal dari The How-To-Geek, nampaknya layanannya memang disesuaikan dengan segala keunggulan yang ada di MS Office.

Memang menyimpan data di internet bagi kebanyakan orang masih dianggap tidak aman. Saya pun hanya menyimpan file yang “tidak penting” [ha, padahal tidak ada sebenarnya data yang penting dan rahasia dan karenanya harus selamanya dirahasiakan]. Dan satu lagi: file yang tidak besar kilobyte-nya. satu saja halangannya mau mengupload file yang besar: layanan internetnya bikin bete.

Tapi sepertinya trends akan menuju ke sana ke arah cloud computing dengan membiarkan internet menyediakan aplikasi apapun, tinggal dipakai dan yang kita perlukan hanyalah layanan internet yang lancar, cepat dan stabil.

Iklan

Pada usianya yang pertama, Google Chrome telah mengeluarkan versi stabil dari versi betanya dan kau tahu: ia browser tercepat yang pernah saya pakai. Ada tambahan feature dalam versi stabil ini, seperti pilihan theme seperti grass atau start grazing. Saya coba theme yang grass dan itu sangat bagus.

Di luar tambahan pilihan theme, perbaikan lain lebih bersifat teknis – yang saya sendiri tidak tahu itu. Tapi yang penting: browser super cepat, dengan feature yang minimalis.

chrome Minimalis tidak menjadi alasan kenapa saya tidak menempatkan Google Chrome sebagai default browser – yang sampai sekarang tetap dipegang Mozilla Firefox. Masalahnya adalah saya ingin mempergunakan browser saya tidak hanya untuk berselancar di alam maya; tetapi ia juga harus menjadi untuk mencari data dan info yang kemudian saya bisa atur di dalam browser atau berbagai feature yang bisa dipilih dan ditinggalkan sesuka hati. Tidak dengan fasilitas copy paste atau mempergunakan aplikasi lain. Mozilla firefox memenuhi kebutuhan saya itu [coba saja add ons Zotero, kau akan sangat terbantu].

Tapi, cobalah fasilitas Downloading-nya Crome, terasa sangat “sempit” dengan hanya satu pilihan dan sering, karena jaringan internet Indonesia lebih sering menyebalkan, banyak proses download yang terputus di tengah jalan dan kita tidak bisa mengulangnya. Firefox masih memberi kesempatan untuk mengulangnya dan itu bukan dari fasilitas add-onsnya kayak DownThemAll.

Kadang saya merasa google chrome terlalu minimalis sehingga keunggulan kecepatannya menjadi sia-sia. Saya membayangkan hasilkan akan luar biasa kalo dia punya banyak pilihan addons kayak firefox, sepertinya banyak yang akan pindah ke Chrome. [Walaupun mungkin saya tidak akan pindah – ini untuk menjaga agar saya tidak jadi budak google; masa setelah kita tidak mungkin lepas dari Mesin Pencari Google, Gmail, eh, kita juga harus memakai Google Chrome dan nanti sebentar lagi, barangkali, Google Wave?]

Dan minimalis tidak berarti konsumsi memory-nya kecil. Google Chrome agak jahat dalam memakan memory; dengan minimalisnya itu, konsumsi memory-nya jauh lebih besar dari Firefox.

Tapi, saya tetap gunakan Google chrome sebagai sekondan Firefox karena saya suka feature incognito-nya. Jika saya ingin “bersembunyi” saya gunakan incognito-chrome. Saking tersembunyinya, bahkan daftar apa yang kau download juga tidak nampak. Ia jauh lebih aman daripada Private Browsing-ya Firefox atau Infrivate-nya IE8.

Mulai di sini untuk Chrome

Saya sudah lama mencari pengganti fasilitas "search" di windows saya. Ia tidak hanya mengindex dan menunjukkan letak sebuah file; tetapi ia juga dapat menunjukan apa isinya. Untuk yang terakhir, Windows Vista sebenarnya punya fasilitas tersebut, anda bisa masuk ke windows eksplorer, klik "organize" sorot "layout" pilih "preview pane".

Masalahnya jika kita ingin mencari kata tertentu, fasilitas search jelas tidak cukup.  Search di Windows hanya akan menunjukan kata itu ada di file yang ditampilkannya, tapi tidak tahu di mana dan seberapa banyak. Copernic Desktop datang logo_cds-prodengan solusi itu. Ia menjadi semacam mesin pencari di dalam komputer anda. Anda dengan akan mudah menemukan file yang anda cari berdasarkan kata yang anda tuliskan. Ia juga akan menunjukan isi keseluruhan file yang anda cari dan bahkan menunjukan di mana kata yang anda cari itu berada di dalam file. Dengan cara demikian, anda tidak perlu repot membuka satu per satu file untuk melihat isinya.

Karena ia mengindex komputer anda, maka konsekuensinya adalah pada memory anda. Jika komputer anda bukan komputer high end akan sangat terasa berat bekerja dengan Copernic Desktop dan juga menghabiskan baterei [lapotop] ketika ia sedang mengindex. Untuk itu, Copernic secara default akan mengindex ketika laptop dalam kondisi dicolokan ke listrik.

Selain itu, ia tidak bisa mengindex file yang diproteksi. Walaupun demikian, misalnya, ketika kita mencari satu kata, file yang terproteksi itu [jika ia ada kata yang dimaksud] tetap akan ditampilkan, namun kita tidak bisa mengintip isi didalamnya.

Satu lagi yang perlu diperhatikan: Copernic ini mengindex apa saja, termasuk catatan pribadi, file rahasia [kadang ia tetap menampilkan file yang sudah lama di delete], atau isi komputer anda. Dan itu agak berbahaya karena: pertama, pihak lain akan mudah mencuri informasi itu; kenapa? karena, kedua, Copernic Desktop akan default terhubung ke internet ketika ada jaringan. Saya sudah lama mencari cara agar ia tidak masuk ke jaringan internet. Namun belum ketemu caranya. Karena itu saya memilih file apa saja dan di mana Copernic bisa mengindex.

Tapi sejauh ini, Copernic Deskto sudah banyak membantu saya menyederhanakan proses pencarian di komputer.

Copernic ini gratis untuk penggunaan di rumah.

Pastinya kita sudah tahu, memutar CD musik di laptop tidak lagi harus langsung dengan memutar CD di CD/DVD Room. Sudah ada fasilitas Ripping di setiap software pemutar musik yang memudahkan proses itu. Kita tinggal cari file musiknya di Hard Drive, klik yang disuka tanpa harus repot nyari-nyari CD-nya.

Nah, masalahnya ada CD/DVD yang walaupun sudah kita install di komputer kita tetap meminta CD/DVD-nya untuk diputar di CD/DVD Room kalau kita mau memakai software itu, misalkan CD/DVD mainan atau application. Tanpa ada CD/DVD di CD room, apllication atau mainan itu tidak mau jalan. Tentu saja kita akan kawatir CD/DVD kita lekas rusak karena sering dipakai dan tak bergunalah CD/DVD yang mahal-mahal kita beli itu.

Saya menghadapi masalah yang sama ketika membeli sebuah CD Interaktif buat anak-anak. Baru sebulan dipake – mungkin juga karena keseringan dipake [2 kali sehari!] – sudah banyak galur-galur di permukaan CD-nya. Terus responnya juga makin lambat, karena nunggu CD/DVD Room baca datanya.

Setelah cari sana-sini, ternyata tidak sulit juga memecahkan masalah itu: saya cuma butuh sebuah Virtual Drive. Saya cari-cari yang gratisan, banyak juga. Saya pilih yang Lifehacker rekomendasikan: Virtual CloneDrive versi 5.4.3.2

Sebelumnya saya sudah backup CD itu dengan memakai fasilitas ImgBurnlogo_t_vcd yang hasilnya adalah file berekstensi .ISO.

Proses Installnya biasa saja [saya pake Windows Vista]. Pas sudah selesai saya malah bingung: terus ngapain? Interface-nya si Virtual Clone Drive ini gak ngasih kabar apapun, hanya ada settings, Language dan info.

Ternyata menggunakan software ini gampang banget. Kita tinggal cari file yang ada ekstensi ISO-nya [atau .BIN atau .CUE], klik kanan, terus pilih Mount [Virtual CloneDrive akan otomatis memilihkan Drive Letter-nya], selesai. Kita akan lihat di Explorer, ada satu drive baru. Klik software mainan anda, maka windows tidak akan meminta lagi anda memasukkan fisik CD ke dalam CD/DVD Room, karena ia akan menyangka Drive yang kita Mount dengan Virtual CloneDrive itu sebagai CD di CD/DVD room.

Selain CD kita awet, dengan menggunakan virtual drive ini jauh lebih senyap, tidak lagi terdengar putaran CD/DVD Room. Bahkan, proses ini banyak dianjurkan karena bisa menghemat energi [terutama jika anda memakai laptop].

Tapi seperti juga jika anda sudah menyudahi permainan dan mematikan komputer, CD/DVD biasanya dikeluarkan dari CD/DVD room. Begitu juga dengan penggunaan virtual drive ini. Ketika komputer dimatikan, maka virtual drive itu akan menghilang. Untuk menampilkannya kembali, prosesnya sama: klik kanan filenya terus pilih Mount.